Kedudukan Hukum Surat Edaran BKN dan Implikasinya terhadap Kepastian Hukum Birokrasi ASN

Authors

  • Mohammad Haikal Tonote Universitas Ichsan Gorontalo
  • Darmawati Darmawati Universitas Ichsan Gorontalo
  • Kingdom Makkulawuzar Universitas Ichsan Gorontalo

DOI:

https://doi.org/10.69693/ijim.v4i3.2663

Keywords:

Aparatur Sipil Negara, Beleidsregel, Hierarki Norma, Kepastian Hukum, Surat Edaran

Abstract

Surat edaran merupakan salah satu instrumen kebijakan administratif yang banyak digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan, meskipun tidak termasuk dalam hierarki peraturan perundang-undangan. Persoalan muncul ketika materi surat edaran beririsan dengan peraturan formal yang mengatur objek yang sama. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan dan kekuatan hukum surat edaran dalam sistem hukum Indonesia serta implikasi yuridis Surat Edaran Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 2 Tahun 2026 terhadap kepastian hukum dan tata kelola birokrasi, khususnya kepatuhan Aparatur Sipil Negara. Penelitian ini menggunakan metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan. Bahan hukum dianalisis secara kualitatif melalui inventarisasi, interpretasi, sistematisasi, dan penalaran hukum dengan menggunakan teori kewenangan, teori hierarki norma, serta asas lex superior derogat legi inferiori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa surat edaran lebih tepat dikualifikasikan sebagai beleidsregel yang kekuatan mengikatnya bersifat administratif dan bergantung pada kewenangan yang sah serta kesesuaiannya dengan peraturan perundang-undangan. Surat Edaran Kepala BKN Nomor 2 Tahun 2026 menunjukkan adanya ekspansi normatif dibandingkan Permendagri Nomor 10 Tahun 2024, terutama mengenai waktu penggunaan batik Korpri. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidaksamaan kepatuhan ASN. Oleh karena itu, diperlukan harmonisasi kebijakan antara BKN dan Kementerian Dalam Negeri.

Downloads

Download data is not yet available.

References

[1] Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

[2] Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2022 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan . 2022.

[3] N. Irfani, “‘Asas Lex Superior, Lex Specialis, dan Lex Posterior: Pemaknaan, Problematika, dan Penggunaannya dalam Penalaran dan Argumentasi Hukum,’” J. Legis. Indones., vol. 17, no. 3, p. 305, 2020.

[4] C. Hanum, “‘Analisis Yuridis Kedudukan Surat Edaran dalam Sistem Hukum Indonesia,’” Huk. dan Masy. Madani, vol. 10, no. 2, p. 138, 2020.

[5] Badan Kepegawaian Negara Republik Indonesia, Surat Edaran Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penggunaan Pakaian Seragam Batik Korpri di Lingkungan Instansi Pusat dan Instansi Daerah, 2026. 2026.

[6] Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 10 Tahun 2024 tentang Pakaian Dinas Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah, 2024. 2024.

[7] Philipus M. Hadjon, “‘Tentang Wewenang,’” Yuridika/Pro Justitia, vol. 1, no. 6, p. 8, 1997.

[8] Azhari Sellomitha Fodhi, Eky Lestari, Tyara Fridayanti Nuramalina, and Ghaida Raisya As-Syifa, “Pentingnya Pemisahan Kekuasaan Dalam Mempertahankan Pemerintahan Yang Seimbang,” J. Hukum, Polit. Dan Ilmu Sos., vol. 3, no. 3, pp. 26–37, 2024, doi: 10.55606/jhpis.v3i3.3872.

[9] J. T. Nugraha, “E-Government dan pelayanan publik (studi tentang elemen sukses pengembangan e-government di pemerintah kabupaten Sleman),” J. Komun. Dan Kaji. Media, pp. 32–42, 2018, [Online]. Available: https://www.academia.edu/download/64644054/228481721.pdf

[10] A. Hanum, A. Hanum, and D. Hariyanti, “Analisis Yuridis Tindak Pidana Pelanggaran Pemilu dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017,” MANDUB J. Polit. Sos. Huk. dan Hum., vol. 2, no. 2, pp. 201–211, 2024, [Online]. Available: https://doi.org/10.59059/mandub.v2i2.1186

[11] W. Yusdheaputra, “Kedudukan Surat Edaran Menteri Dalam Hierarki Peraturan Perundang-Undangan.,” Jurist-Diction, vol. 6, no. 1, p. 191, 2023, doi: 10.20473/jd.v6i1.43557.

[12] D. P. Simatupang, “‘Asas Lex Superior Derogate Legi Inferiori dan Kedudukan Surat Edaran,’ Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan Republik Indonesia,” 2022.

[13] M. D. La Cruzz, F. Abdillah, and M. H. Rahman, “Legal Protection for Workers in Gorontalo : Towards a Civilized Justice System,” Indones. Civ. Law Rev., vol. 2, no. 1, pp. 41–63, 2025.

[14] Y. S. Hasan, S. R. Ela, N. Yulifwi, and S. Musa, “Trademark Counterfeiting : A Legal Review and Its Implications for Consumer Protection,” Indones. Civ. Law Rev., vol. 2, no. 1, pp. 18–39, 2025.

[15] S. R. and M. I. A. Saharuddin, Sri Winarsi, “The Steep Road of Land Law Dualism in Indonesia: Living Law VS Positive Law,” YURIDIKA Fak. Huk. Airlangga, vol. 41, no. 2, p. 145, 2026, [Online]. Available: doi: https://doi.org/10.20473/ydk.v41i2.79552

[16] Saharuddin, A. S. M. Pide, Y. Wahid, M. I. Arisaputra, D. R. D. Aribah, and R. Sahabuddin, “Tayade System Land Rights: The Concept of Unification of Customary Law and Indonesian Positive Law,” IOP Conf. Ser. Earth Environ. Sci., vol. 1430, no. 1, p. 012005, Dec. 2024, doi: 10.1088/1755-1315/1430/1/012005.

[17] M. Tata, K. Pemerintahan, U. Muhammadiyah, and S. Barat, “Mewujudkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik di Indonesia: Kajian Teoretis atas Prinsip, Tantangan dan Strategi Implementasi,” J. Ilmu Sos. , Ekon. dan Pendidik., vol. 1, no. 1, pp. 42–54, 2025.

[18] P. Fera and A. Esta, “Implementasi Sustainable Tourism Dalam Pemulihan Citra Pariwisata Bali Pasca Isu ‘ Bali Tak Layak Dikunjungi Tahun 2025 ’ Pada Dinas Pariwisata Provinsi Bali,” Socio-political Commun. Policy Rev., vol. 2, no. 3, pp. 1–9, 2025.

[19] M. Kadarisman, “Efektivitas Kinerja Aparatur Sipil Negara Dalam Pelayanan Administrasi di Kota Depok,” J. Ilmu Adm. Media Pengemb. Ilmu dan Prakt. Adm., vol. 16, no. 1, pp. 17–32, 2019, doi: 10.31113/jia.v16i1.202.

[20] E. Nur Khobiburrohma, P. Septiana Margareta, and M. Habbie Hasbullah, “Penerapan Sistem Merit Dalam Birokrasi Indonesia Untuk Mewujudkan Good Governance,” Transparansi J. Ilm. Ilmu Adm., vol. 3, no. 2, pp. 139–148, 2020, doi: 10.31334/transparansi.v3i2.900.

[21] A. A. Fitri, Z. Ridlwan, and R. Natamiharja, “Penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) Pada Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi Lampung Dengan Prinsip Good Governance,” UNES Law Rev., vol. 6, no. 3, pp. 8412–8424, 2024, [Online]. Available: https://review-unes.com/index.php/law/article/view/1749

[22] W. Sutiani, “Pengaturan Netralitas Aparatur Sipil Negara Dalam Pemilihan Umum Menurut Uu. No 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara,” J. Ilm. Cakrawarti, vol. 7, no. 2, pp. 15–27, 2024, doi: 10.47532/jic.v7i2.1093.

Downloads

Published

2026-09-09

How to Cite

Tonote, M. H., Darmawati, D., & Makkulawuzar, K. (2026). Kedudukan Hukum Surat Edaran BKN dan Implikasinya terhadap Kepastian Hukum Birokrasi ASN. Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research, 4(3), 14051–14063. https://doi.org/10.69693/ijim.v4i3.2663