Pengaruh Jarak Sumur Gali Dengan Septic Tank Terhadap Kandungan Bakteri E.Coli Pada Air Sumur Gali Dikelurahan Jambu Kabupaten Hulu Sungai Selatan
DOI:
https://doi.org/10.69693/ijim.v4i3.1843Keywords:
Escherichia coli, sumur gali, septic tank, kualitas airAbstract
Air sumur gali masih menjadi sumber air yang banyak digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, kualitas air sumur dapat dipengaruhi oleh keberadaan sumber pencemar di sekitarnya, salah satunya septic tank. Jarak sumur yang terlalu dekat dengan septic tank berpotensi menyebabkan pencemaran bakteriologis, termasuk oleh bakteri Escherichia coli yang merupakan indikator pencemaran fekal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jarak sumur gali dengan septic tank terhadap keberadaan bakteri Escherichia coli pada air sumur gali di wilayah kerja Puskesmas Jambu Hilir, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Jambu Hilir yang meliputi Kelurahan Jambu Hilir, Desa Amawang Kiri, Desa Amawang Kanan, dan Desa Baluti. Sampel penelitian berjumlah 33 sumur gali yang dipilih sesuai kriteria penelitian. Pemeriksaan bakteri Escherichia coli dilakukan di laboratorium, sedangkan analisis hubungan menggunakan uji Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 26 sampel (78,8%) terkontaminasi Escherichia coli dan 7 sampel (21,2%) tidak terkontaminasi. Selain itu, sebanyak 16 sumur (48,48%) memiliki jarak septic tank kurang dari 11 meter dari sumur. Hasil uji Fisher Exact memperoleh nilai p-value sebesar 0,003 (p<0,05), yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara jarak sumur gali dengan septic tank terhadap keberadaan bakteri Escherichia coli. Dapat disimpulkan bahwa jarak sumur yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan berhubungan dengan meningkatnya risiko pencemaran Escherichia coli pada air sumur gali. Penerapan jarak aman antara sumur dan septic tank penting untuk menjaga kualitas air tanah. Selain itu, perbaikan sanitasi lingkungan diperlukan untuk menjamin keamanan dan kualitas air sumur gali.
Downloads
References
Ashbolt, N. J. (2021). Microbial contamination of drinking water and human health from community water systems. Current Environmental Health Reports,
Badan Standardisasi Nasional. (2017). SNI 2398:2017 tentang tata cara perencanaan tangki septik dengan sistem resapan. BSN.
Bain, R., Cronk, R., Hossain, R., Bonjour, S., Onda, K., Wright, J., Yang, H., Slaymaker, T., Hunter, P., Prüss-Ustün, A., & Bartram, J. (2014). Global assessment of exposure to faecal contamination through drinking water based on a systematic review.
Chandra, B. (2017). Pengantar kesehatan lingkungan. EGC.
Dinas Kesehatan. (2024). Profil kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan tahun 2024. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.
Edberg, S. C., Rice, E. W., Karlin, R. J., & Allen, M. J. (2000). Escherichia coli: The best biological drinking water indicator for public health protection. Journal of Applied Microbiology, 88(S1), 106S–116S.
Gleeson, T., Wada, Y., Bierkens, M. F. P., & van Beek, L. P. H. (2012). Water balance of global aquifers revealed by groundwater footprint. Nature, 488(7410), 197–200.
Graham, J. P., & Polizzotto, M. L. (2013). Pit latrines and their impacts on groundwater quality: A systematic review. Environmental Health Perspectives, 121(5), 521–530.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 tentang pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang kesehatan lingkungan. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Pedoman kualitas air hujan untuk kebutuhan domestik. Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Pedoman sanitasi dan higiene lingkungan. Kemenkes RI.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2021). Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. KLHK.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. (2023). Pedoman teknis sistem pengelolaan air limbah domestik. PUPR.
Khairunnisa, A., Putra, R. A., & Lestari, D. (2025). Hubungan jarak septic tank terhadap kualitas bakteriologis air sumur gali di wilayah perkotaan. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 24(1), 45–53.
Kodoatie, R. J. (2021). Tata ruang air tanah. Andi.
Lapworth, D. J., Baran, N., Stuart, M. E., & Ward, R. S. (2017). Emerging organic contaminants in groundwater: A review of sources, fate and occurrence. Environmental Pollution, 163, 287–303.
Notoatmodjo, S. (2014). Ilmu perilaku kesehatan. Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2018). Metodologi penelitian kesehatan. Rineka Cipta.
Nugraha, A., Pratama, D., & Siregar, H. (2023). Analisis pencemaran air tanah akibat limbah domestik dan peternakan. Jurnal Lingkungan dan Kesehatan, 17(2), 101–110.
Pratama, D., & Lestari, R. (2023). Hubungan kondisi fisik sumur dengan kandungan E. coli di wilayah padat penduduk. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 18(2), 120–128.
Putra, R. A., & Wulandari, S. (2022). Pengaruh kondisi sanitasi terhadap kualitas bakteriologis air sumur gali. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia,
Rompré, A., Servais, P., Baudart, J., de-Roubin, M. R., & Laurent, P. (2002). Detection and enumeration of coliforms in drinking water: Current methods and emerging approaches. Journal of Microbiological Methods,
Santi, D. R., Wulandari, N., & Prasetyo, B. (2024). Analisis kualitas mikrobiologis air sumur gali di kawasan permukiman padat. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 16(1), 10–18.
Sari, D., & Nuraini, L. (2020). Faktor risiko pencemaran air sumur gali di daerah padat penduduk. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 15(3), 150–158.
Sari, R., Handayani, T., & Putri, A. (2021). Hubungan jarak septic tank dengan kualitas air sumur gali di Kabupaten Bantul. Jurnal Sanitasi Lingkungan, 12(1), 33–40.
Setyowati, R., Hidayat, T., & Lestari, D. (2023). Pengaruh jenis tanah terhadap pergerakan bakteri Escherichia coli pada air tanah dangkal. Jurnal Ilmu Lingkungan, 21(3), 200–210.
Sutrisno, T. (2018). Teknologi penyediaan air bersih. Rineka Cipta.
Suyono. (2010). Ilmu kesehatan lingkungan. Rineka Cipta.
Todd, D. K., & Mays, L. W. (2005). Groundwater hydrology (3rd ed.). John Wiley & Sons.
Utiarahman, G. (2017). Pengelolaan sumber daya air bersih di wilayah perkotaan. Jurnal Teknik Lingkungan, 23(2), 89–98.
Wahyu, H., Pramono, S., & Lestari, E. (2021). Perbandingan kualitas air sumur gali dan sumur bor di wilayah Yogyakarta. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 20(1), 25–32.
WHO. (2011). Guidelines for drinking-water quality (4th ed.). World Health Organization.
World Health Organization. (2017). Guidelines for drinking-water quality (4th ed.). WHO.
World Health Organization. (2022). Guidelines for drinking-water quality (5th ed.). WHO.
World Health Organization. (2023). Sanitation and health guidelines. WHO.
Wright, J., Gundry, S., & Conroy, R. (2013). Household drinking water in developing countries: A systematic review of microbiological contamination. Tropical Medicine & International Health, 9(1), 106–117.
Wulandari, S., Nugraha, A., & Putri, D. (2024). Pengelolaan sampah rumah tangga berbasis lingkungan sehat. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 18(1), 55–63.
Yulianti, D., & Siwiendrayanti, A. (2024). Pengaruh sanitasi lingkungan terhadap kualitas air tanah di daerah urban. Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, 23(1), 12–20.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.


















